Dosen dan Mahasiswa Rekayasa Kehutanan ITERA Diskusi Pengembangan Kehutanan dengan Kepala Balai PDASHL WSS-Lampung

Dosen dan Mahasiswa Rekayasa Kehutanan ITERA Diskusi Pengembangan Kehutanan dengan Kepala Balai PDASHL WSS-Lampung

Senin, 10 Februari 2020

Dosen dan Mahasiswa Rekayasa Kehutanan diberikan kesempatan untuk berkunjung ke rumah Bapak Idi Bantara S.Hut., M.Sc selaku Kepala Balai PDASHL (Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung) Way Seputih Sekampung-Lampung (Senin, 10 Februari 2020). Dalam kesempatan kunjungan ini dosen dan mahasiswa berdiskusi mengenai peluang pengembangan penelitian dan pengabdian masyarakat. Kedepannya Rekayasa Kehutanan ITERA akan ikut berperan dalam pengelolaan kegiatan pelestarian hutan di Provinsi Lampung.

Diskusi tersebut dihadiri juga oleh pelaku lapangan Kelompok Tani Hutan Mangrove Pasir Sakti-Lampung Timur yang memberikan informasi banyak mengenai kegiatan konservasi mangrove yang telah dikembangkan dan sudah menjadi lokasi wisata. Kedepannya kolaborasi akan dilakukan oleh Program Studi Rekayasa Kehutanan ITERA, BPDASHL WSS, dan kelompok-kelompok tani hutan Lampung.

“Setelah kemarin kumpul bersama dosen muda rekayasan kehutanan ITERA, ternyata keinginan kumpul kembali semakin seru. Malam ini yang hadir ada dosen perikanan kaitanya dengan mangrov, dan mahasiswanya. Semakin ramai karena dihadiri pelaku lapangan dari Kelompok Tani hutan mangrove Pasir Sakti Lampung Timur. Pertemuan kedua semakin kenal arah rencana yang akan dikembangkan. Ada banyak hal yang bisa didapatkan di acara obrol malam ini. Obrolan yang santai dan menyenangkan. Kumpul-kumpul bersama terkait sumber daya hutan dan kelautan bukan hanya tentang mendapatkan wawasan, tapi juga obrolan yang menyenangkan dan hangat. Semoga kita tidak hanya bisa wacana tapi juga mampu mewujudkan pengembangan IPTEK dan mengabdikan pengetahuan bersama petani hutan”

@idibantara66

Selain diskusi, Dosen dan Mahasiswa Rekayasa Kehutanan ITERA juga praktek membuat kompos blok dan tegel blok yang bermanfaat sebagai media tanam. Media kompos berasal dari feses gajah, sapi, dan kambing serta campuran kompos lainnya. Kedepannya Prodi Rekayasa Kehutanan akan ikut mengembangkan kompos blok dan terutama tegel blok untuk meningkatkan kemampuan media tanam dan berpotensi tinggi untuk pengembangan bisnis.

Leave a Reply