Prodi Rekayasa Kehutanan ITERA Perkuat Kurikulum dan Sinergi Stakeholder Kehutanan Lampung

img 2822

Lampung Selatan – Program Studi Rekayasa Kehutanan, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Institut Teknologi Sumatera (ITERA) menyelenggarakan rangkaian kegiatan akademik dalam rangka penguatan kurikulum, peningkatan kompetensi lulusan, serta perluasan sinergi dengan pemangku kepentingan kehutanan. Rangkaian kegiatan tersebut terdiri atas Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) Evaluasi Kurikulum Rekayasa Kehutanan yang dilaksanakan pada 19 Juni 2026, serta Studium Generale bertema “Integrasi Perencanaan Kawasan Hutan, Pengelolaan Hutan Lestari, dan Implementasi Tapak KPH dalam Mendukung Tata Kelola Kehutanan Berkelanjutan di Lampung” yang diselenggarakan pada 20 Juni 2026 di Aula Gedung C ITERA.

Kegiatan ini melibatkan dosen, mahasiswa, alumni, akademisi, praktisi, serta pemangku kepentingan dari instansi kehutanan di Provinsi Lampung. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Prodi Rekayasa Kehutanan ITERA berupaya memastikan bahwa proses pendidikan yang diselenggarakan tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja, perkembangan teknologi, serta tantangan pengelolaan sumber daya hutan secara berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan DKT Evaluasi Kurikulum Rekayasa Kehutanan. Kegiatan ini dibuka oleh perwakilan Dekan FTI ITERA, Wakil Dekan FTI, Jabosar Silitonga, S.T., M.T., Ph.D. Dalam sambutannya, disampaikan bahwa evaluasi kurikulum merupakan bagian penting dari proses peningkatan mutu akademik program studi, sekaligus menjadi dukungan terhadap kesiapan Prodi Rekayasa Kehutanan dalam menghadapi proses reakreditasi.

Koordinator Program Studi Rekayasa Kehutanan ITERA, Khoryfatul Munawaroh, S.Hut., M.Si., memaparkan profil program studi, arah pengembangan kurikulum, profil lulusan, serta capaian pembelajaran lulusan. Kurikulum Rekayasa Kehutanan ITERA diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang mampu merancang pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis teknologi dan inovasi, mengembangkan basis data kehutanan, membangun teknopreneurship di bidang kehutanan, serta memiliki kompetensi kepemimpinan dalam lingkungan profesional kehutanan.

Dalam sesi evaluasi kurikulum, berbagai masukan strategis disampaikan oleh para pemangku kepentingan. Iskandar, S.P., Kepala UPTD KPH Pesawaran, menekankan pentingnya penguatan kompetensi mahasiswa pada bidang perhutanan sosial, agroforestri, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, teknologi pengolahan HHBK, penghitungan dan perdagangan karbon, pemetaan spasial, serta rehabilitasi dan reklamasi lahan. Ia juga menyampaikan bahwa KPH Pesawaran terbuka menjadi laboratorium lapangan bagi kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Masukan juga disampaikan oleh Helly Fitriyanty, S.Hut., M.P., Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Madya Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XX Bandar Lampung. Ia menyoroti pentingnya penguatan kompetensi di bidang sistem informasi geografis, penginderaan jauh, penafsiran tutupan lahan, analisis perubahan penggunaan lahan, serta inovasi teknologi untuk mendukung rehabilitasi daerah aliran sungai dan reklamasi bekas tambang.

Sementara itu, Dr. Dudi Iskandar, S.E., M.H., Kepala Balai Pengelolaan Hutan Lestari Wilayah VI Bandar Lampung, menekankan perlunya penguatan identitas lulusan Rekayasa Kehutanan ITERA. Menurutnya, lulusan perlu memiliki nilai tambah yang membedakan dari lulusan kehutanan pada umumnya, terutama dalam bidang multiusaha kehutanan, manajemen karbon, digital forestry, pemantauan berbasis teknologi, data sains, kecerdasan buatan, serta rekayasa pengendalian kebakaran hutan.

Masukan dalam DKT juga diberikan oleh akademisi, praktisi industri, alumni, mahasiswa, dan perwakilan Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Kehutanan Indonesia (FOReTIKA). Beberapa isu penting yang mengemuka antara lain penguatan pembelajaran berbasis kasus, problem based learning, kemampuan bahasa asing, literasi teknologi dan kecerdasan buatan, public speaking, kepemimpinan, etika profesi, empati sosial, serta kemampuan lulusan untuk menjawab tantangan perubahan iklim, kebencanaan hidrometeorologis, reklamasi tambang, dan pengelolaan hutan berbasis masyarakat.

Setelah pelaksanaan DKT Evaluasi Kurikulum, Prodi Rekayasa Kehutanan ITERA melanjutkan rangkaian kegiatan melalui Studium Generale pada 20 Juni 2026. Kegiatan ini dibuka oleh Ketua Pelaksana, Rio Ardiansyah Murda, S.Hut., M.Si., dan dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh Koordinator Program Studi Rekayasa Kehutanan ITERA. Sesi pemaparan materi dipandu oleh Arief Juniarto, S.Hut., M.Si., selaku moderator.

Studium Generale menghadirkan tiga narasumber dari instansi kehutanan strategis di Provinsi Lampung. Narasumber pertama, Helly Fitriyanty, S.Hut., M.P., menyampaikan materi mengenai peran pemantapan kawasan hutan dalam mendukung perencanaan kehutanan berkelanjutan di Provinsi Lampung. Dalam paparannya, ia menjelaskan profil BPKH Wilayah XX Bandar Lampung, perencanaan kehutanan, isu penyelesaian penguasaan tanah dalam rangka penataan kawasan hutan, serta peluang kolaborasi antara BPKH dan perguruan tinggi.

Materi kedua disampaikan oleh Dr. Dudi Iskandar, S.E., M.H., yang mengulas transformasi pengelolaan ekosistem hutan berbasis lanskap untuk mendukung ketahanan iklim dan ekonomi hijau berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa pengelolaan hutan saat ini tidak cukup hanya berbasis kawasan, tetapi perlu berbasis bentang alam dan ekosistem. Pendekatan multiusaha kehutanan juga dinilai penting untuk mengoptimalkan potensi kawasan hutan secara ekologis, sosial, dan ekonomi.

Narasumber ketiga, Iskandar, S.P., memaparkan implementasi pengelolaan hutan di tingkat tapak melalui peran Kesatuan Pengelolaan Hutan. Ia menyoroti peran KPH dalam pemberdayaan masyarakat, perlindungan hutan, rehabilitasi kawasan, serta pengembangan potensi lokal. Menurutnya, prinsip penting dalam pengelolaan hutan di tingkat tapak adalah menjaga hutan yang masih baik, memperbaiki hutan yang rusak, dan mengoptimalkan potensi lokal secara berkelanjutan.

Sesi diskusi berlangsung interaktif. Mahasiswa dan peserta berdialog langsung dengan para narasumber mengenai tata kelola kehutanan, kebutuhan kompetensi lulusan, praktik pengelolaan di tingkat tapak, serta peluang kolaborasi antara perguruan tinggi dan instansi kehutanan.

Melalui rangkaian kegiatan ini, Prodi Rekayasa Kehutanan ITERA menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan kurikulum yang adaptif, kontekstual, dan responsif terhadap kebutuhan zaman. Kegiatan ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan antara dunia akademik, pemerintah, praktisi, alumni, mahasiswa, dan mitra kehutanan dalam mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan di Provinsi Lampung dan Sumatera.

Prodi Rekayasa Kehutanan ITERA berharap hasil DKT Evaluasi Kurikulum dan Studium Generale ini dapat menjadi dasar pengembangan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang lebih aplikatif. Selain itu, kegiatan ini diharapkan membuka ruang kerja sama yang lebih luas dengan berbagai lembaga kehutanan, khususnya dalam penguatan laboratorium lapangan, praktik mahasiswa, riset terapan, pengembangan teknologi kehutanan, serta peningkatan kualitas lulusan Rekayasa Kehutanan ITERA.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top