




(22/11/2024) Dalam rangka FTI Expo (Fakultas Teknologi Industri) yang berlangsung selama 3 hari mulai dari tanggal 21 sampai dengan 23 ini, salah satu program studi di Itera yakni Rekayasa Kehutanan mengadakan kembali SG di aula Gedung Kuliah Umum 1 pada pukul 08.30 – 12.00 WIB. Kegiatan ini dibawakan oleh pembicara yang merupakan seorang Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi (PJLKK) serta Ditjen KSDAE Kementerian Kehutanan Republik Indonesia yang bernama Bapak Dr. Nandang Prihadi, S.Hut., M.Sc. dan dipandu oleh seorang moderator yakni Bapak Rizki Kurnia Tohir, S.Hut., M.Si. selaku Dosen Prodi Rekayasa Kehutanan Itera serta merupakan anggota IUCN SSC Indonesia Species Specialist Group.
Pada tema yang dibawakan pembicara menjelaskan bahwasannya Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi yang dimana semua bisa dimanfaatkan untuk masyarakat sesuai penempatan dan kebutuhannya masing-masing. Beliau juga menjelaskan bahwa pemanfaatan kawasan hutan konservasi terbagi dalam dua hal yaitu adanya jasa lingkungan dan juga pemanfaatan tumbuhan satwa liar. Salah satu pemanfaatan tumbuhan satwa liar yakni bioprospeksi yaitu kegiatan eksplorasi sumber daya alam hayati untuk pemanfaatan secara komersial baik dari spesies, biokimia atau turunannya.
“Ada itu yang di daerah Gunung Rinjani jamur morel yang banyak manfaatnya tapi jarang orang yang tahu, itu salah satu potensi bioprospeksi yang kita punya itu” pungkasnya.
Oleh karena itu, peserta diajak oleh pembicara untuk tetap gencar dan juga ikut aktif dalam pemanfaatan mengenai potensi-potensi keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia untuk dapat menjaga dan melestarikannya agar tetap ada hingga di masa mendatang.
Selain itu, pembicara menegaskan untuk tetap berpatuh pada tiga pilar pengelolaan kawasan konservasi yaitu perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan. Ketiga pilar tersebut atau biasa disebut dengan 3P harus dikelola dengan serasi dan seimbang antara ekosistem, spesies, dan genetik untuk mampu mewujudkan kelestarian sumber daya alam (SDA) hayati yang ada. Di sisi lain, adapun tantangan-tantangan yang perlu dihadapi dalam pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia misalnya adalah perambahan, perburuan, perdagangan illegal, konflik manusia dan satwa liar serta populasi kecil yang terisolasi. Tantangan-tantangan tersebut masih sering ditemukan dan masih menjadi tantangan terbesar yang masih sulit untuk dihindari. Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama antar pihak untuk mengurangi bahkan mengatasi kegiatan-kegiatan illegal tersebut. Pada sesi akhir, beliau juga menegaskan bahwa keanekaragaman hayati di Indonesia dan tantangannya perlu tetap ada kontrol dan pengawasan agar generasi mendatang bisa ikut merasakan dan memanfaatkan keanekaragaman hayati yang ada.
